Sinetron Indonesia Neh!!!!
Cuti satu bulan penuh, menjadikan saya benar2 menikmati hidup dari sisi yang lain…selama ini saya selalu menikmati hidup dari sisi menikamti dunia senikmat2nya..dengan menyibukkan diri di pekerjaan, bertemu dengan berbagai karakter manusia, dll..dllnya..
Dan sejak 1 februari saya cuti 1 bulan, selain saya jadi terlatih untuk tambahan hobby masak saya..saya juga sering nongkrong di depan TV..dan satu lagi..jadi pengamat dan mau gak mau penikmat sinetron Indonesia
Satu hal, ternyata memang sinetron Indonesia kan
Meskipun ada juga temen kerja saya dulu di astra yang merupakan penikmat sinetron2 indonesia (ketika saya Tanya lebih lanjut, dia memberikan alasan bahwa kondisi di bogor tidak memungkinkan dia untuk hang out keluar setelah pulang kerja malam dan lelah, jadilah satu2nya alternative menonton segala judul dan episode sinetron yang terus tersambung, yang kebetulan semuanya dipasang di prime time seluruh stasiun TV di Indonesia atau yang tertangkap antena TVnya.), namun saya rasa memang sebagian besar penikmat sinetron di Indonesia adalah kaum perempuan, kaum yang berdasarkan analisa ala mars dan venus, adalah kaum yang menggunakan sebagian besar perasaan disbanding dengan logikanya ketika di hadapkan pada sebuah permasalahan.
Meskipun saya banyak menolak teori tersebut, saya rasa entah karena pengaruh teori, entah karena bentukan sisitem social di Indonesia (gender) banyak benarnya.untuk kasus perempuan Indonesia Indonesia Indonesia korea Taiwan Indonesia
Dan sedihnya lagi, selain pola dan tema yang dihadirkan sama, saya rasa eksploitasi kaum perempuan besar sekali di film2 tersebut..coba lihat contohnya di RCTI, jam 6 judulnya DIVA, jam 7 judulnya Namaku MENTARI, Jam 8 Judulnya CAHAYA, jam stgh 10 judulnya KASIH, semuanya perempuan, dan semuanya bernasib tragis..belum SCTV, kayak BUNGA, AZIZAH, trus..SUCI…Tuuhhh.nama perempuan semua kan
Terus terang, saya sangat keberatan dengan ketimpangan gender seperti ini..kayaknya kok dieksploitisir ya..dijadikan object untuk bisa menarik pasar perasaan perempuan sebagai penikmatnya, dan lagipula nilai moral yang ditawarkan kayaknya minim sekali..saya rasa satu2nya nilai positif yang mungkin bisa terserap dengan entah berapa persen adalah semangat kerja keras dan optimisme..mungkin itu satu2nya hal yang sempat terpikir oleh pembuat cerita karena melihat kondisi bangsa Indonesia
Satu hal lagi yang bikin miris (selain mengumbar dandanan yang berlebihan untuk anak2 SMP dengan aksesori yang kurang pantas dikenakan anak2 SMP, dan pengumbaran kekayaan dan materi yang ‘terlalu’ berkilau) adalah penokohan antagonisnya. Disetiap sinetron yang sempet saya amati dan saya ikuti keberadaannya, tokoh antagonis perempuan tersebar dimana2..dan menurut pengamatan saya, justru tokoh antagonis perempuanlah yang lebih terkesan kejam, jahat, tidak berhati, culas dan licik. Sangat membuat geram siapapun yang menontonnya..sampai kadang saya ikut geram sendiri, dan buru2 berikrar bahwa semuanya hanyalah rekayasa pembuat cerita..hehehe, tidak menyalahkan, khusunya ibu saya, sosok yang tidak bekerja..pure bekerja di rumah sehari2nya..hanya satu even tertentu aja bekerja..sehari2nya kelelahan dengan pekerjaan domestic, hidup di desa, tidak ada hiburan yang berarti selain makan dan TV..jikalaupun shopping tentu harus mengeluarkan budget lebih lagi bukan??dan saya yakin itu bukan pilihan dia yang utama..hehehe…tentu saja..apalagi jika bukan sinetron tempat dia ‘lepas sejenak’ dari keseharian dan kerutinannya.., dan dia benar2 sosok yang sangat mudah teralrut ke dalam cerita sinetron2 tersebut..aksi ikut meneteskan air mata, berteriak karena tegang, menutup mata, adalah reaksi yang biasanya disuguhkan ke saya jika kebetulan saya menemani beliau menonton TV di rumah. Sangat alami reaksi yang dia sajikan dari aksi melihat sinetron2 tadi, saya kerap bercanda sm ibu saya bahwa beliau adalah salah satu korban sukses dari sutradara sinetron..tapi toh..selama bertahun2 juga dia mengiyakan sekaligus tetap menyajikan pemandangan yang sama ketika saya pulang satu tahun berikutnya..duuhh…begitu naturalnya ibu saya ya…hehehehe..
Penokohan antagonis yang diperankan oleh actor perempuan disbanding dengan actor laki2 sangat jauh berbeda…jikalau antagonis laki2 melakukan kejahatan dengan potensi menyakiti sekali dan mati, setelah itu tujuannya tercapai dan selesai (tapi episode terus berlanjut dan dia bln juga berhasil ‘menyelesaikan’ si protagonist) namun aktris antagonis berperan dengan lebih sadis lagi..membunuh adalah pilihan terakhir, jangan dibunuh dengan cepat, perlahan2..ambil dulu semua harta benda, dipojokkan, dihina, dicaci maki, difitnah, dikeluarkan dari lingkungannya, sampai dengan proses labrak dilabrak yang menurut saya sangat tidak edukatif…apapun bentuknya, actor antagonis tidaklah harus selalu berpikir untuk menghilangkan di protagonist bukan??atau jika memang bermaksud memberikan greget tersendiri untuk sinetron, tidak harus sefrontal itu kan
Memang,fungsi pengawasan keluarga dan orang tualah yang paling utama..iya..tentu saja dengan harapan bahwa semua orang tua di Indonesia paham akan hal tersebut dan ‘punya’ banyak spare pikiran untuk hal tersebut…terkadang, banyak ibu2 yang sedari siang bekerja dirumah, mengurus anak dan rumah, sore hari yang dia impikan atau yang dia tunggu2 adalah sedikit hadiah relaks dengan menonton sinetron tanpa peduli apakah yang ditampilkan di sinetron tersebut ‘bakal’ diserap oleh buah hati mereka yang masih berada di fase alpha.fase yg mudah dipengaruhi, mudah di doktrin, dan mudah mengingat…kasus riilnya ya ibu saya..saat prime time sinetron tiba, dia sering berebut remote control dengan adik bungsu saya..padahal adik saya yang paling kecil tidak punya tendensi apapun selain menggoda dan memancing kemarahan ibu saya…biasalah, keusilan anak SMP..tapi kadang dari situ jadi berbuntut panjang, dan ujung2nya sayalah yang kebagian tugas ‘membuat adik terlena’ akan niatan semula dengan mengajaknya keluar rumah..duuhh..sinetron..sinetron…
Bicara tentang hal tersebut, sebagai masyarakat..apakah kita tidak berhak meminta disediakan tontonan yang lebih edukatif ke pemerintah ya?? Ataukah memang kita tetap dan akan terus di jadikan objek yang hanya bisa menerima apa2 yang di sodorkan dan disuguhkan ke kita..meskipun hal tersebut adalah ‘bahaya laten’ yang tidak di sadari?? Apakah hanya saring menyaring tontonan saja yang bisa kita lakukan sebagai pemirsa dalam rangka melakukan tindakan preventive untuk menghindari bahaya laten tadi? Peran media memang sangat besar untuk mengedukasi masyarakat..dan seharusnya hal ini tidak hanya menjadi wacana public saja bukan (saya yakin banyak tulisan serupa dengan ini)…tapi jadi satu dari sekian motivator pemerintah untuk segera bergerak..atau generasi muda bangsa akan hancur oleh pola pendidikan yang sangat tidak edukatif…kita bergerak sekarang, atau mati kemudian!!!!

Recent Comments