Sinetron Indonesia Neh!!!!

Cuti satu bulan penuh, menjadikan saya benar2 menikmati hidup dari sisi yang lain…selama ini saya selalu menikmati hidup dari sisi menikamti dunia senikmat2nya..dengan menyibukkan diri di pekerjaan, bertemu dengan berbagai karakter manusia, dll..dllnya..

Dan sejak 1 februari saya cuti 1 bulan, selain saya jadi terlatih untuk tambahan hobby masak saya..saya juga sering nongkrong di depan TV..dan satu lagi..jadi pengamat dan mau gak mau penikmat sinetron

Indonesia

..

Satu hal, ternyata memang sinetron

Indonesia

dibuat memang dengan pertimbangan menaikkan rating..(tentu saja!!)dan dengan pertimbangan tersebut, produksi terus dibuat berlanjut dengan cerita yang terus menerus membuat penonton penasaran…tentu saja target bidikan penikmat adalah kaum perempuan dan ibu2 rumah tangga..ya kayak saya ini…yang rata2 seumuran saya banyak yang sudah jadi ibu rumah tangga

kan

?? Apalagi seumuran ibu saya..hehehe..bangeeettt…

Meskipun ada juga temen kerja saya dulu di astra yang merupakan penikmat sinetron2 indonesia (ketika saya Tanya lebih lanjut, dia memberikan alasan bahwa kondisi di bogor tidak memungkinkan dia untuk hang out keluar setelah pulang kerja malam dan lelah, jadilah satu2nya alternative menonton segala judul dan episode sinetron yang terus tersambung, yang kebetulan semuanya dipasang di prime time seluruh stasiun TV di Indonesia atau yang tertangkap antena TVnya.), namun saya rasa memang sebagian besar penikmat sinetron di Indonesia adalah kaum perempuan, kaum yang berdasarkan analisa ala mars dan venus, adalah kaum yang menggunakan sebagian besar perasaan disbanding dengan logikanya ketika di hadapkan pada sebuah permasalahan.

Meskipun saya banyak menolak teori tersebut, saya rasa entah karena pengaruh teori, entah karena bentukan sisitem social di Indonesia (gender) banyak benarnya.untuk kasus perempuan

Indonesia

..atau perempuan2 yang saya kenal..dan mungkin, hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan utama rumah produksi untuk menjadikan kaum perempuan sebagai sasaran bidik untuk konsumen sinetron yang kebanyakan menampilkan cerita dan ide tentang nasib anak tiri, pembantu rumah tangga yang ternyata anak orang kaya hanya dia diculik dari kecil, atau nasib pernikahan kedua, istri pertama dan kedua..anak jalanan yang ternyata cucu orang kaya…pokoknya tentang nasib tragis yang menimpa satu orang dan kemudian cerita bergulir tentang perjuangan si tokoh ini untuk mencapai impia hidupnya atau sampai akhirnya bertemu dengan ‘takdir’nya..kalau saya perhatikan, hampir 99% sinetron

Indonesia

bertema sama dan sejenis..dan karena saya tidak terlalu berminat menonton drama seri buatan luar

Indonesia

, saya tidak tahu jika semuanya adalah jiplakan sinetron asia (

korea

, cina,

Taiwan

dkk)..itu kata temen saya yang cukup update untuk masalah film seri luar

Indonesia

loh.. 

            Dan sedihnya lagi,  selain pola dan tema yang dihadirkan sama, saya rasa eksploitasi kaum perempuan besar sekali di film2 tersebut..coba lihat contohnya di RCTI, jam 6 judulnya DIVA, jam 7 judulnya Namaku MENTARI, Jam 8 Judulnya CAHAYA, jam stgh 10 judulnya KASIH, semuanya perempuan, dan semuanya bernasib tragis..belum SCTV, kayak BUNGA, AZIZAH, trus..SUCI…Tuuhhh.nama perempuan semua

kan

?? Kayaknya memang perempuan itu ‘menjual’ dan ‘dijual’ sekali ya…

Terus terang, saya sangat keberatan dengan ketimpangan gender seperti ini..kayaknya kok dieksploitisir ya..dijadikan object untuk bisa menarik pasar perasaan perempuan sebagai penikmatnya, dan lagipula nilai moral yang ditawarkan kayaknya minim sekali..saya rasa satu2nya nilai positif yang mungkin bisa terserap dengan entah berapa persen adalah semangat kerja keras dan optimisme..mungkin itu satu2nya hal yang sempat terpikir oleh pembuat cerita karena melihat kondisi bangsa

Indonesia

yang sudah hilang semangat dan kerja kerasnya..benar2 menjadikan perempuan sebagai object yang di ekspoitisir dari sisi pemainnya, bajunya, ceritanya, judulnya, penokohannya, sampai dengan penikmatnya.

Satu hal lagi yang bikin miris (selain mengumbar dandanan yang berlebihan untuk anak2 SMP dengan aksesori yang kurang pantas dikenakan anak2 SMP, dan pengumbaran kekayaan dan materi yang ‘terlalu’ berkilau) adalah penokohan antagonisnya. Disetiap sinetron yang sempet saya amati dan saya ikuti keberadaannya, tokoh antagonis perempuan tersebar dimana2..dan menurut pengamatan saya, justru tokoh antagonis perempuanlah yang lebih terkesan kejam, jahat, tidak berhati, culas dan licik. Sangat membuat geram siapapun yang menontonnya..sampai kadang saya ikut geram sendiri, dan buru2 berikrar bahwa semuanya hanyalah rekayasa pembuat cerita..hehehe, tidak menyalahkan, khusunya ibu saya, sosok yang tidak bekerja..pure bekerja di rumah sehari2nya..hanya satu even tertentu aja bekerja..sehari2nya kelelahan dengan pekerjaan domestic, hidup di desa, tidak ada hiburan yang berarti selain makan dan TV..jikalaupun shopping tentu harus mengeluarkan budget lebih lagi bukan??dan saya yakin itu bukan pilihan dia yang utama..hehehe…tentu saja..apalagi jika bukan sinetron tempat dia ‘lepas sejenak’ dari keseharian dan kerutinannya.., dan dia benar2 sosok yang sangat mudah teralrut ke dalam cerita sinetron2 tersebut..aksi ikut meneteskan air mata, berteriak karena tegang, menutup mata, adalah reaksi yang biasanya disuguhkan ke saya jika kebetulan saya menemani beliau menonton TV di rumah. Sangat alami reaksi yang dia sajikan dari aksi melihat sinetron2 tadi, saya kerap bercanda sm ibu saya bahwa beliau adalah salah satu korban sukses dari sutradara sinetron..tapi toh..selama bertahun2 juga dia mengiyakan sekaligus tetap menyajikan pemandangan yang sama ketika saya pulang satu tahun berikutnya..duuhh…begitu naturalnya ibu saya ya…hehehehe..

Penokohan antagonis yang diperankan oleh actor perempuan disbanding dengan actor laki2 sangat jauh berbeda…jikalau antagonis laki2 melakukan kejahatan dengan potensi menyakiti sekali dan mati, setelah itu tujuannya tercapai dan selesai (tapi episode terus berlanjut dan dia bln juga berhasil ‘menyelesaikan’ si protagonist) namun aktris antagonis berperan dengan lebih sadis lagi..membunuh adalah pilihan terakhir, jangan dibunuh dengan cepat, perlahan2..ambil dulu semua harta benda, dipojokkan, dihina, dicaci maki, difitnah, dikeluarkan dari lingkungannya, sampai dengan proses labrak dilabrak yang menurut saya sangat tidak edukatif…apapun bentuknya, actor antagonis tidaklah harus selalu berpikir untuk menghilangkan di protagonist bukan??atau jika memang bermaksud memberikan greget tersendiri untuk sinetron, tidak harus sefrontal itu

kan

?? Maksud saya coba kita bandingkan dengan film pendek berseri dari Taiwan semodel full house, atau film seri heroes, atau mungkin sitcom OB yang ada gregetnya dengan menampilkan tokoh antagonis pak taka dan mpok odah, tapi mereka tidak se’cruel’ tokoh antagonis di sinetron2 yang ditampilkan di prime time (yang celakanya lagi, dengan mudah bisa di akses anak2 kecil saat mereka selesai belajar sore dan ikut nongkrong di depan TV bersama keluarga)..

Memang,fungsi pengawasan keluarga dan orang tualah yang paling utama..iya..tentu saja dengan harapan bahwa semua orang tua di Indonesia paham akan hal tersebut dan ‘punya’ banyak spare pikiran untuk hal tersebut…terkadang, banyak ibu2 yang sedari siang bekerja dirumah, mengurus anak dan rumah, sore hari yang dia impikan atau yang dia tunggu2 adalah sedikit hadiah relaks dengan menonton sinetron tanpa peduli apakah yang ditampilkan di sinetron tersebut ‘bakal’ diserap oleh buah hati mereka yang masih berada di fase alpha.fase yg mudah dipengaruhi, mudah di doktrin, dan mudah mengingat…kasus riilnya ya ibu saya..saat prime time sinetron tiba, dia sering berebut remote control dengan adik bungsu saya..padahal adik saya yang paling kecil tidak punya tendensi apapun selain menggoda dan memancing kemarahan ibu saya…biasalah, keusilan anak SMP..tapi kadang dari situ jadi berbuntut panjang, dan ujung2nya sayalah yang kebagian tugas ‘membuat adik terlena’ akan niatan semula dengan mengajaknya keluar rumah..duuhh..sinetron..sinetron…

Bicara tentang hal tersebut, sebagai masyarakat..apakah kita tidak berhak meminta disediakan tontonan yang lebih edukatif ke pemerintah ya?? Ataukah memang kita tetap dan akan terus di jadikan objek yang hanya bisa menerima apa2 yang di sodorkan dan disuguhkan ke kita..meskipun hal tersebut adalah ‘bahaya laten’ yang tidak di sadari?? Apakah hanya saring menyaring tontonan saja yang bisa kita lakukan sebagai pemirsa dalam rangka melakukan tindakan preventive untuk menghindari bahaya laten tadi? Peran media memang sangat besar untuk mengedukasi masyarakat..dan seharusnya hal ini tidak hanya menjadi wacana public saja bukan (saya yakin banyak tulisan serupa dengan ini)…tapi jadi satu dari sekian motivator pemerintah untuk segera bergerak..atau generasi muda bangsa akan hancur oleh pola pendidikan yang sangat tidak edukatif…kita bergerak sekarang, atau mati kemudian!!!!

                            

Anti Komunis..Telat Kaleee!!!

Sempet melihat dan mendengar tentang pembubaran diskusi pemuda dan mahasiswa di bantul, yogyakarta kemaren??diskusi dengan peserta dari 19 daerah ini mengusung ‘tema’ diskusi ‘anti imperialisme’ ini dibubarkan oleh sekelompok masa yang menamakan diri mereka FAKI (Front Anti Komunisme

Indonesia

). Masa FAKI ini tiba2 menyerbu ruangan diskusi yang berada di satu perkebunan di Bantul. Masa diskusi langsung berhamburan menyelamatkan diri dari amuk FAKI ini, dan tidak hanya membubarkan, masa FAKI juga menendang, memukul, dan mengamuk dengan sasaran masa diskusi yang mereka temui masih di dalam ruangan..bahkan aparat keamananpun tidak kuasa menghentikan aksi brutal mereka…

Melihat masa diskusi yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan masa FAKI mengingatkan saya pada kenangan 8 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2000 bulannya kalo gak salah sekitar bulan juli, dimana saya mengenal komunitas saya di kantin pertama kalinya..bedanya, saat itu kami lari dari ancaman tembak ditempat jika melawan oleh satu kompi aparat kepolisian.

Saat itu, saya memang belum terlalu mengenal siapa2 dan bagaimana komunitas kantin yang saya ikuti pelatihannya hanya dari ajakan seorang teman kost untuk sekedar iseng2 dan menambah pengalaman dan teman. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa dari keisengan tersebut, saya benar2 menemukan diri saya yang sesungguhnya, istilah kerennya, saya menemukan jati diri saya..saya menemukan siapa saya, apa keinginan saya yang sesungguhnya, saya jadi tahu tentang bagaimana saya harus berpikir, bersikap dan bertindak terhadap impian dan idealisme saya..intinya..disana, saya menjadi diri saya sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan. Benar2 lingkungan dan komunitas yang menerima saya tanpa syarat..

Kembali ke saat dimana saya mengikuti pelatihan untuk pertama kalinya. Judul pelatihannya adalah pelatihan pergerakan mahasiswa. Sekitar 3 hari 3 malam yang dialokasikan untuk pelatihan tersebut, dan panitia menempatkan pelatihan kami tersebut di sebuah perkebunan teh, dimana para pekerjanya yang juga tinggal di sekitar pabrik tersebut sedang bermasalah dengan pihak management perusahaan. Para pekerja pabrik/para buruh menuntut untuk dibuatkan sebuah system masyarakat yang

baku

, sehingga memudahkan mereka untuk mendapatkan kemudahan sebagai warga Negara

Indonesia

dan fasilitas2nya. Mereka menuntut dibuatkan pranata pemerintah/sebuah desa dengan segala kelengkapan administratifnya sehingga mereka tidak kesulitan ketika harus mengurus KTP/KK atau ketika ada pemilu, mereka tidak harus menempuh perjalanan sejauh 40 km dengan berjalan kaki, menuruni bukit berbatu dan menjadi licin ditengah musim hujan, sebenarnya rumah yang mereka tempati adalah runah nenek moyang mereka, namun Karena ketidaktahuan untuk mengurus kepemilikan tanah dengan surat2 yang dilegalkan menjadikan tanah dan rumah mereka diambil alih secara sepihak dan paksa oleh management. Dengan berlatar belakang hal tersebut (dari yang saya ketahui berdasar cerita salah satu panitia), kami mencoba belajar untuk ‘hanya’ mendapatkan informasi/data tentang permasalahannya dan kemudian kami ‘belajar’ tentang bagaimana merumskan masalah, dan langkah apa yang harus kami lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, termasuk jika diperlukan melakukan advokasi ke DPRD dan pihak terkait untuk membantu masyarakat ditempat tersebut karena pengetahuan mereka akan hak dan hal apa saja yg dapat mereka lakukan untuk menuntut hak tersebut sangatlah minim.

Dan setelah semua persiapan pribadi dan logistic sudah kami kumpulkan, kami semua naik kereta menuju ke daerah blitar..ya tempat kelahiran bung karno. Setelah sampai di stasiun satu

kota

kecil di blitar (saya lupa nama daerahnya), kami naik truk yang akan mengantar kami ke daerah masyarakat perkebunan teh tersebut. entah karena kurang koordinasi atau karena salah pengertian diantara panitia yang menyiapakan transportasi dan sopirnya, kami melewati jalan ‘normal’, dimana seharusnya kami menuju ke lokasi dengan melewati jalan alternative untuk menghindari dan mengantisipasi diketahui oleh pihak management pabrik. Jadilah..karena kami melewati jalan ‘normal’ kami di stop oleh pihak pengamanan pabrik (seorang polisi) yang saat itu sedang bertugas, kami dihentikan untuk ditanya2 mengenai tujuan kami dan apa yang akan kami lakukan. Dan karena kurang koordinasi pula sepertinya, kami spontan menjawab bahwa kami akan mengadakan pelatihan mahasiswa tentang bla..bla..bla…, jadilah, kami di blokir tidak diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke lokasi yang sedianya akan menjadi tempat singgah kami selama 3 hari ke depan. Kami di’evakuasi’ sementara menunggu perintah lebih lanjut dari atasan polisi tersebut ataupun dari management pabrik. Kami di evakuasi ke daerah lain (di dekat lokasi tempat tinggal para buruh tersebut yang belum masuk ke kawasan pabrik). Di tempat ini, hanya ada sekitar 15an rumah tinggal, memang kawasan yang lebih kecil dibandingkan dengan di lokasi tempat kami seharusnya melakukan pelatihan. Sampai ditempat salah satu tokoh masyarakat atau orang yang dituakan di komunitas tersebut, hari sudah larut, sekitar pukul 8 malam. Meskipun kami belum sempat makan siang ataupun makan malam, tidak terlintas di benak saya keinginan untuk makan sedikitpun karena suasana begitu tegang dan menakutkan untuk ukuran saya yang belum pernah mengalami kasus seperti itu. Akhirnya dari hasil koordinasi dan diskusi kakak2 yang menjadi steering committee pada saat itu, kami sepakat untuk berpencar, atau menginap tidak di satu tempat yang sama, mengantisipasi seandainya kami tertangkap oleh aparat, maka kami tidak boleh tertangkap semua. Maka jadilah kami di bebaskan untuk mencari tempat menginap sendiri, terserah, mau di lading penduduk (jika merasa aman) di mushola, atau di rumah penduduk.. sedangkan posisi saat itu adalah pukul 24.00 WIB yang berarti untuk ukuran di perkebunan teh (dingin sekali) dan larut malam, semua pintu rumah penduduk sudah tertutup rapat dan lampu sudah dimatikan semua, yang menandakan semua penduduk sudah menyusup ke selimut masing2 dan terlelap. Utunglah, karena bantuan dari beberapa masyarakat yang masih bertahan membantu kami di rumah salah satu tokoh tersebut, kami berhasil memperoleh tempat menginap yang layak dan cukup hangat. Dan untuk saya beserta 2 peserta perempuan lainnya, mendapatkan bonus ketela dan pisang rebus yang masih mengepul..hmmm. hangat dan mengenyangkan, yang menjadikan kami ingat betapa laparnya kami hari ini. sangat nyaman malam itu, menginap dirumah seorang janda tua yang hidup bersama cucu lelakinya sementara putra dan menantunya masih mengadu nasib sebagai TKI di Malaysia. Rumah yang sangat sederhana, hanya berdinding anyaman bambu dan beratap seng yang sudah lapuk dan menderit setiap kali angin pegunungan yang dingin berhembus kencang. Tidur kami malam itu antara nyenyak dan tidak nyenyak, capek yang kami rasakan akibat panjangnya perjalanan menempuh sekian kilometer terguncang2 di bak truk menjadikan badan kami pegal2, dan tidak nyenyak karena kami tegang dan khawatir akan segala kemungkinan yang bisa terjadi malam itu. Jam 3 pagi, kami dikejutkan dengan suara deru banyak motor yang mendekat ke rumah tokoh masyarakat tempat beberapa senior kami menginap, dan setelah kami terbangun, ternyata mereka-mereka yang menginap ditempat tersebut semuanya di bawa ke kantor polsek untuk dimintai keterangan. Seandainya kami semua ada di satu tempat yang sama malam itu, kemungkinan kami semua akan diangkut ke kantor polisi pada dini hari itu. Setelah menunggu sampai sekitar subuh, teman kami kembali dari kantor polisi dengan membawa pesan dari kapolsek bahwa jam 8 pagi hari kami sudah harus meninggalkan tempat tersebut atau kami semua akan ‘dimusnahkan’ karena sudah turun perintah tembak ditempat jika kami berani melakukan perlawanan, yang kemungkinan besar serius karena toh juga tidak akan meninggalkan jejak jika mayat kami semua dibuang ke jurang, lagipula lokasi tersebut sangat terpencil.

Dengan alasan tidak ingin memperpanjang masalah dan memeberatkan penduduk tempat kami menginap, kami segera bersiap untuk menginggalkan tempat tersebut, dan rencana dadakan pun direncanakan, kami di evakuasi untuk terus melanjutkan pelatihan ke rumah salah satu peserta pelatihan yang berada di blitar juga. Dengan bantuan salah satu penduduk, kami mendapatkan mobil pick up untuk membawa kami keluar dari lokasi tersebut sebelum jam 8 pagi. Pagi hari setelah kami semua bersiap, kami kembali berkumpul di rumah tokoh masyarakat tersebut, seluruh masyarakat dari 15an rumah di tempat kami dievakuasi ditampah hamper seratus orang dari masyarakat yang tingal di lokasi yang sedianya kami tempati untuk pelatihan juga ikut membantu kami. Pagi hari itu, seluruh buruh mogok kerja, semua laki2 dewasa bersiap mengelilingi rumah tempat kami berkumpul dengan berbagai macam senjata tajam seadanya, kebanyakan parang dan bambu runcing. Dan para ibu2 semuanya membantu memasak untuk menyiapkan sarapan bagi kami dan bapak2 yang sedang siaga di sekeliling rumah. Sungguh saat itu di dada saya rasanya bergemuruh, saya seolah punya kekuatan 1000 kali lipat dan ketakutan yang awalnya ada di diri saya semuanya menguap, yang ada adalah siap tempur dan siap mati…mungkin semangat inilah yang dulu menjadi motor bagi bangsa Indonesia untuk berjuang mengusir penjajah. Ternyata darah tersebut menitis ke diri saya juga, entahlah.mungkin saya ada titisan sedikit darah jenderal sudirman karena daerah asal beliau dekat dengan daerah asal saya..hahahahahhaha…

Kami melakukan segala sesuatu secara berlapis dan bergantian, untuk makan pagi, kami lakukan bergantian setiap 5 orang sementara yang lain berjaga, dan mengikuti acara perpisahan dan ucapan terima kasih dari mereka ke kami dan ucapan maaf dari kami ke mereka.setelah mobil yang akam membantu kami keuar dari lokasi tersebut telah siap, kami berpamitan satu persatu, dengan para ibu di dalam rumah dan dengan para bapak di luar rumah. Saya yang pertama kali berpamitan ke ibu di samping saya untuk terus berlanjut bersalaman ke ibu2 yang lain dank e bapak2 di luar rumah. Begitu saya menyalami tangan ibu itu, beliau langsung memeluk saya sembari menangis sesegukan, mau tidak mau kami semua turut menitikkan air mata, saya terbata berucap terima kasih atas bantuan dan keramahan selama kami disitu dan mohon maaf karena dengan kedatangan kami, mereka pasti akan mendapatkan masalah baru lagi. Padahal selama ini mereka sudah terlalu banyak masalah dengan pihak management. Ibu itu berucap sambil sesegukan terima kasih atas kedatangan kami, inisiatif kami untuk membantu kehidupan mereka menjadi lebih baik, dan berucap jangan kapok datang ke tempat tersebut..saya dipeluk erat sekali, dan ketika saya beralih ke ibu selanjutnya, dia sudah bercucuran air mata, dan memeluk saya. Ternyata semua orang di ruangan tersebut sudah menangis. Hanya dari beberapa sahabat lelaki saya yang mencoba menahan dengan sekuat tenaga rasa haru yang menyeruak di dada mereka, mata mereka semuanya merah menahan tangis..dan tangis mereka tumpah ketika kami berpamitan ke para bapak yang sudah bersiap di halaman, dengan senjata yang masih tergengam di tangan kiri mereka, meraka berucap terima kaish dengan memeluk dan menitikkan air mata juga…

Akhirnya setalah berpamitan pulang, kami semua berjalan menuju ke mobil pick up didiringi tatapan dari mereka semua, sepanjang jalan kami terdiam, terpekur dan masih sesak karena sedih dan geram yang tidak tertuang dengan sempurna. Setelah sekitar 30 km mobil kami berjalan, di jalan yang sama, satu2nya jalan menuju lokasi tersebut, kami berpapasan dengan satu kompi truk polisi dengan personil lengkap bersenjata lengkap. Semuanya sudah dalam posisi siaga satu, posisi siap menyerang..ternyata memang pihak management dan kepolisian sangat serius terhadap ancaman mereka. Syukurlah tidak sampai terjadi chaos yang akan mengakibatkan jatuh sekian korban tidak bersalah. Sesampainya kami ditempat evakuasi kedua, ada beberapa dari kami yang kembali ke lokasi awal untuk mengetahui kejadian selanjutnya, karena memang ada beberapa dari kami yang kontinyu memberikan advokasi jauh sebelum kami datang. Dan bahwa kami membawa masalah baru ke warga di perkebunan teh itu memang benar, setelah masalah kedatangan kami, dan satu kompi truk polisi tadi datang dengan mengobrak abrik seluruh rumah warga untuk membuktikan bahwa kami tidak disembunyikan di suatu tempat, dan kebijakan awal oleh management untuk warga dan buruh perkebunan diperbolehkan memotong beberapa batang pohon jati untuk memperbaiki rumah warga yang rusak menjadi di cabut kembali…

Dan karena kejadian tersebutlah saya jadi merasa bersyukur, telah memasuki satu lingkungan yang selama ini saya cari, telah menemukan komunitas yang mampu menampung kegelisahan saya dan mewujudkan keinginan hati saya untuk tidak hanya diam dan menunggu. Saya yakin, sampai dengan detik ini, bahwa merekalah saudara2 saya yang sesungguhnya.

Kembali ke cerita FAKI yang kemaren sempat membubarkan forum diskusi, saya malah jadi bingung, ternyata di masa suharto sudah meninggalpun, issue2 ‘paranoid’ ttg komunisme masih tetap mengakar, sampai ada ‘front anti’nya segala…

Apakah tidak ada hal lain yang lebih layak untuk kita pikirkan selain sekedar ketakutan yang berlebihan ttg komunisme. Misalnya FAKI diganti dengan FAKI tapi K nya bukan untuk Komunis, melainkan untuk Korupsi..dan bagus juga kali ya.jika FAKI baru ini ngejar2 koruptor buat dipukulin rame2 sampe dia mau balikin duit Negara…kayaknya ide saya cukup keren ya…hahahaha…

Btw, ttg perkebunan teh tadi, berita tersebutlah yang terakhir saya dengar, sampai dengan detik ini, saya berhutang kepada seluruh warga dan buruh di perkebunan teh tersebut…entahlah saya juga tidak tahu dengan apa saya bisa membayar hutang saya ke mereka…bolehkah hanya membayar dengan doa dan harapan?? Tapi rasanya kok kurang sempurna ya…???

My Own Laskar Pelangi

Cerita di buku laskar pelangi yang sudah saya lunasi hutang untuk membacanya membuat saya tersenyum. Cerita tersebut sama secara esensi dengan beberapa tahun ketika saya mengajar di sekolah rakyat, kali ini tidak di belitong, namun di keputih..desa dimana kampus ITS berdiri. Desa disebelah tempat pembuangan akhir seluruh sampah di seluruh

kota

Surabaya

. Selesai kuliah, dimulai drai pukul 19.00 sampai dengan pukul 21.00 kami menghabiskan waktu di desa keputih, kami tersebar di beberapa RT untuk membantu adik2, putra putri Indonesia yang kurang beruntung karena terlahir sebagai putra putri pemulung yang menjadikan mereka tidak mendapatkan akses pendidikan maksimal. Kami membantu merek belajar setelah selesai sekolah, membantu mereka belajar, malah ada beberapa yang berhenti sekolah Karena ketidaksanggupan membayar biaya sekolah yang melambung untuk ukuran kantong mereka.

Selama 2 jam kami mencoba mengembalikan memori mereka untuk mengingat kembali rangkaian huruf2 yang pernah mereka pelajari di sekolah entah beberapa tahun yang lalu. Dan di 6 RT di kampung keputih itu kami tersebar masing2 3 – 4 orang untuk mengajar berbagai tingkat kelas. Saya kebanyakan dapat jatah untuk mengajar kelas 1 dan kelas 2 sekaligus. Segala mata pelajaran, dari matematika, bahasa Indonesia, IPA sampai dengan bahasa daerah yang selalu membuat saya melonggo karena bingung dan tidak tahu jawabannya. Bayangkan, saya melalui kelas 1 SD sudah sekitar 20an tahun yang sudah lampau, bagaimana saya bisa mengingat jawaban “Omah doro jenenge?” apa yaaa…saya hanya ingat kalo anak sapi itu namanya gudhel, that’s all!!! (tapi belakangan secara tidak sengaja saya mendapatkan jawaban dari sahabat saya kalo rumahnya burung merpati di bahasa jawa namanya pangupon..hehehehehe).

Kami belajar dengan berbagai kondisi tempat, di RT 6 yang saya lihat paling nyaman tempatnya. Mereka menempati teras rumah sampai dengan ruang tamu ketua RT setempat, dan udaranya relative lebih bersahabat, setidaknya bau sampah dari tumpukan menggunung lebih dari 1 Ha sampah yang semakin hari berbau bacin. Di beberapa RT lain, lebih memprihatinkan, seperti tempat saya mengajar, RT 2, kami belajar di satu ‘gazebo’ alias gubuk di pojok ladang yang gundul. Ditambah hanya cahaya lampu bohlam 50 watt kami belajar ditemani suara jangkrik dan tentu saja bau menyengat sampah bacin dan gigitan ribuan nyamuk. Gazebo yang saya ceritakan itu berbentuk panggung dengan dinding triplek yang menyelimuti di ketiga sisinya, satu sisi yang terbuka di jadikan pintu keluar masuk gazebo tersebut. setiap kali kami mau belajar, saya menganjurkan kepada setiap murid2 saya untuk memakai lotion anti nyamuk. Tapi hebatnya mereka, tidak 1 cm pun mereka surut langkah mengetahui tempat mereka belajar terlihat sangat memprihatinkan, mereka tetap datang setiap jadwal belajar dimulai dengan senyuman ceria dan semangat, yang memompa semangat saya yang terkadang sudah luntur karena lelah setelah praktikum.

Kadang, jika ada beberapa dari kami yang berhalangan datang karena sakit, saya harus mendobel mengajar, di RT 1 dan RT 2. jadilah karena keinginan untuk tidak menelantarkan adik2 saya tercinta, saya bolak balik dari RT 1 ke RT 2 yang jaraknya beberapa puluh meter dengan dijemput dan diantar 1 teman saya yang mengkoordinasikan semuanya. Jika sudah seperti ini, saya harus siap untuk dimutungi dan dimusuhi beberapa adik didik saya. Biasanya mereka akan menahan saya untuk tidak berpindah tempat, dengan memegangi tangan saya, terus memeluk saya untuk tetap di tempat sampailah dengan menangis, dan ssetelah itu, saya disibukkan dengan 10 menit membujuk mereka semua untuk melepaskan pelukannya dari tubuh saya, dan menjanjikan permen atau apapun makanan yang mereka mau jika mereka mau ‘meminjamkan’ saya kepada saudara2 mereka di RT lain untuk 15 menit berikutnya. Biasanya mereka mengijinkan saya pergi sementara dengan ancaman, jika tidak kembali, maka saya ‘dipecat’ dari daftar kakak yang mereka sayangi…(aduuuuhhhh saya jadi kangen mereka semua..), dan kondisi tersebut kembali saya alami ketika saya berada di RT 1, mereka tidak mengijinkan saya kembali ke RT 2. jika sudah seperti itu, rasanya saya ingin membagi badan saya menjadi 2, jadi tidak perlu bolak balik, sungguh menyenangkan karena merasa disayang oleh banyak anak kecil, sekaligus melelahkan karena harus bolak balik antar 2 RT.

Kondisi memprihatinkan itu tidak hanya terjadi karena tempat yang sempit dan kurang nyaman saja untuk belajar, pernah pada satu saat ketika musim hujan, kami harus hentikan sementara kegiatan belajar bersama tersebut karena rumah beberapa ketua RT tempat kami belajar, kebanjiran. Air sampai dengan mata kaki masuk ke rumah RT 4, dan baru surut setelah 2 hari. Sehingga kami harus gabungkan antara RT 3 dan RT 4 untuk belajar di rumah ketua RT 3. namun yang saya salutkan, tidak pernah sedikitpun adik2 saya tercinta ini mengeluh akan kondisi tempat belajar mereka yang sangat apa adanya..sungguh..mereka sangat tabah dan sangat ‘menyadari’ kondisi mereka.

Sikap menyadari kondisi mereka dan ‘tahu diri’ ini juga sempat membuat saya benar2 menangis di hadapan mereka sangkin terharunya. Adalah satu orang yang bernama udin, adik saya yang belajar di RT 2, untuk ukuran sisiwa SD kelas 1, membacanya memang belumlah selancar teman seangkatannya. Masih sangat perlahan dan terbata, kadang2 malah lupa salah satu huruf dari serangkaian kata yang harus dia ucapkan. Ternyata setelah saya Tanya, dia tidak punya buku bacaan ataupun buku panduan apapun. Biasanya untuk latihan membaca, siswa kelas 1 SD diharapkan mempunyai buku panduan membaca, namun karena harganya mahal, menjadikan orang tuanya tidak mampu membeli buku tersebut. saya coba berinisiatif memberikan dia fotocopyan buku panduan untuk dia belajar membaca, syukurlah semakin hari semakin terlihat kemajuannya membaca. Satu hari kami membaca tentang bacaan berjudul cita2ku, setelah semuanya mendapatkan giliran membaca, saya tanyakan ke mereka satu persatu, apakah cita2 mereka. Saat itu saya berharap mendapatkan jawaban yang sama yang biasanya saya dengar dari adik saya yang terkecil ataupun dari keponakan2 saya, biasanya cita2 anak kecil sangatlah idealis, astronot, pilot, dokter, polisi, tentara, atau bahkan presiden. Saya tersentak ketika mendengar  jawaban mereka..mbak, cita2ku nanti kerja di

Malaysia

, ada tetanggaku yang kerja di

Malaysia

mbak, dia pulang bawa motor…atau cita2 jadi guru ngaji..cita2 yang sederhana, tapi sangat mulia…yang paling membuat saya tersentak dan kemudian meneteskan air mata ketika saya mendengar jawaban yang disampaikan si udin dengan sangat antusias..dia menjawab sambil melompat berdiri dan berteriak kencang seolah itu adalah harapan terbesarnya yang dia teriakkan sebagai doa..dia berteriak bilang..mbak..cita2ku jadi sopir angkooottt….saya tertegun..apakah kondisi hidup mereka yang sedemikian memprihatinkan menjadikan imaginasi masa kecil mereka direnggut paksa karena mereka harus berpikir logis.berpikir tentang realita bahwa dengan kondisi mereka dan orang tua mereka, sepertinya sangat mustahil bagi mereka untuk bersekolah tinggi mencapai impian2 besar seperti anak2 seusia mereka pada umumnya. Rasanya perih sekali mengetahui mereka tidak merasa berhak bermimpi layaknya anak2 kecil lain..saya mencoba bertanya, kenapa tidak pengen jadi pilot, dokter, atau paling tidak guru? Ditanya seperti itu, mereka hanya tertuduk dan saling berpandangan..benar2 tertunduk…dan mereka hanya menjawab dengan gelengan kepala, tanpa keterangan dan penjelasan lebih lanjut…setelah itu, saya hanya mencoba mengubah pola piker yang sudah tertanam dalam diri mereka, saya katakana bahwa kalian harus sekolah terus, dan cita2nya kurang keren…cita2nya ditambahin lagi, biar lebih bagus..contohnya jadi dokter,

kan

bisa Bantu tetangga2 buat periksa kl mereka lagi sakit..bla..bla..bla…

Sayangnya, saya terputus kontak dengan mereka setelah saya lulus kuliah dan mencoba peruntungan di

Jakarta

. Saya kembali pulang setelah wisuda tanpa pamitan kepada adik2 saya tercinta, dan saya yakin..mereka juga sama dengan saya..merasakan kehilangan…

Sejak saat saya tanyakan impian2 mereka itu, saya yakin bahwa mereka sudah berpikir bahwa merekapun boleh bermimpi selayaknya putra putri

Indonesia

yang lain…soal terkabul atau tidak, itu adalah soal ketekunan dan soal approval Tuhan bukan?? Setidaknya berani bermimpi dulu lah..yang menjadikan sebuah motivasi tersendiri buat mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik dari sekarang…mudah2an..

Mbak Eni dan Hezel

Please find on www.nellrose.wordpress.com

Para Lelakiku I & II

please find on www.nellrose.wordpress.com

2 Hari kemarin....

2 hari berturut – turut ini saya mengadiri sebuah acara yang sangat bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Sabtu tgl 5 januari 2008 saya dibangunkan paksa oleh salah satu temen kost saya yang memberitakan ayah dari salah satu temen kost kami meninggal karena terjatuh dan pembuluh darahnya pecah. Kepergian ayah santi ini tanpa sakit terlebih dahulu yang berarti kematian beliau begitu mendadak (Turut Berduka Cita ya Santi..).

Segera kami bersiap melayat dan menghadiri prosesi pemakaman beliau, dan hanya berbekal petunjuk menuju kediaman santi, kami berlima mencoba mraba daerah pekayon yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Sesampainya kami di gang yang menuju ke ruma santi, santi sudah mengahmbur ke pelukan kami dengan tangisan yang membuat ulu hati kami semua ngilu…kami hanya terdiam, masing-masing menahan untuk tidak ikut menitikkan airmata..tapi akhirnya pecah juga tangis diantara beberapa dari kami.

Banyak pelayat yang sudah datang di rumah santi, dari teman kerja, teman kuliah (santi kebetulan melanjutkan kuliahnya untuk meraih gelar sarjana akuntansi sambil bekerja), saudara, tetangga, dan kerabat sudah memenuhi tenda yang didirikan mungkin dari semalam. Aura yang kami dapati adalah aura sedih dan tangis, ditambah suasana hujan rintik dan dominasi baju yang berwarna hitam dari pelayat – pelayat yang datang, rasanya sangat tidak masuk akal jika disitu ada suara tawa.

Jenazah ayah santi sudah di mandikan, dan akan dikafani, ketika kemudian santi dan seluruh anggota keluarga inti (ibu santi, adik dan kakaknya) dipanggil kembai ke rumah untuk terakhir kalinya melihat wajah ayahnya sebelum dikafani. Kami ikut masuk ke dalam rumah untuk melihat muka beliau untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Muka beliau telah di beri taburan pewangi, seluruh tubuhnya sudah dibalut dengan kain kafan kecuali bagian muka. Di depan saya, santi berpelukan erat dengan ibunya ketika sama – sama memandangi muka orang tercinta yg juga kepala kelaurga mereka untuk yang terakhir kalinya. Seolah saling menguatkan mereka berpelukan sangat erat, sampai saya melihat kuku jari santi memucat. Kami semua terdiam, ikut larut dalam suasana haru tersebut, sekitar 10 menit kami terdiam dan sama2 memperhatikan sampai kemudian penguru jenazah bertanya “sudah cukup?”, dengan anggukan lemah santi dan ibunya mengiyakan, dan setelah muka jenazah ditutup ain kafan, ibu santi terkulai lemas, tidak sadarkan diri, mungkin beban ketabahan yangmencoba ia kuatkan dari semalam sampai di titik kulminasi pada saat dia sadar bahwa saat itulah saat terakhir dia melihat orang yg sangat dia cintai seumur hidupnya.

Sampai dengan 1 jam kemudian, prosesi pemakaman di TPU Pondok Kelapa masih berlangsung, ketika kami sampai di sana, liang lahat beserta tenda sudah terpasang. Dan enazah mulai diturunkan. Sani dan sang bunda kembali saling memeluk menguatkan ketika melihat jenazah diturunkan, dan sampai dengan mulai di urug dengan tanah, lapis demi lapis. Pada saat itulah, ketabahan yang santi sajikan ke kami dari kami datang pagi tadi luluh, dia merosot dari pelukan sang ibu, dan terkulai ditanah merah..santi pingsan…

Kami usung santi k salah satu mobil kerabatnya, dan akibatnya dia tidak bisa mengikuti prosesi doa di pemakaman tersebut, karena lemas..Tabah ya San…

Pulang dari melayat,sepanjang jalan, masih terbayang dengan jelas..ucap terima kasih yg lirih dari ibu santi ketika kami mengungkapkan duka cita yang dalam atas kepergian kepala keluarga mereka, badan ibu santi panas, demikian juga dengan badan santi saat kami pamitan dan memeluknya, kami ingin memberi sebuah kekuatan untuk santi dan keluarganya atas musibah besar yang mendadak tersebut, kami yakin mereka tidak siap dengan kondisi tersebut, tapi maut tidak pernah memilih waktu dan sasaran bukan?? Kami hanya berharap santi dan keluarganya diberi ketabahan dan arwah sang ayah dapat diterima disisiNya..

Dan kondisi sarat dengan duka itu berbalik 180 derajat diesokan harinya, saya menghadiri pernikahan rekan kerja saya sewaktu di astra. Sesampai kami di acara resepsi, semua aura menjadi sangat penuh dengan suka ria, semua tamu mengenakan baju terbaiknya. Dengan dandanan istimewa, bau parfum semerbak, hiasan dan rangkaian bunga yang sangat indah dan lampion cantik di tenda besar serta berlimpahnya makanan penggugah selera di meja2 hidangan (saya kelupaan makan es krim coklat..dan kayaknya baksonya dari jeroan deh…duuhh...) Para tamu yang datang, semuanya tersenyum, saling menyapa gembira, bersalaman dengan tatapan bahagia…apalagi ketika melihat kedua mempelai bersanding, rasanya mereka berhak mengklaim bahwa pada hari itu merekalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini  ;p, dengan balutan kebaya merah marun dan jilbab yang berhias wangi bunga melati, temen saya terlihat bagai bidadari, dan kalo bahasa salah satu temen laki-laki yang hadir pada saat itu, “dia terlihat lebih muda dari usianya ya?” hahahahahahaha….tapi dia bener kok…setidaknya rekan saya itu memang terlihat sangat cantik di balutan baju pengantinnya..Mbak Lastri, Happy Wedding, semoga diberi kebahagiaan pernikahan hingga di ujung usia nanti..amiinnnn

2 hari ini, saya melihat dua suasana yang saling bertolak belakang, suasana dengan larat belakang 2 emosi dasar  manusia yang sangat drastic, sedih dan senang..dan terasa sangat kontras suasana di keduanya. Karena saya termasuk orang yg mudah terbawa suasana dan emosi, saya pun dengan sangat cepat terlarut dalam suasana tersebut, masing2, dengan tangisan dan tawa. Saya dan sahabat – sahabat saya datang memang hanya sebagai pelengkap suasana, dengan penyesuaian kami, kami hanya butuh 1 – 3 jam untuk ikut merasakan apa yang telah terjadi, bahagia..kami ikut merasa bahagia, dan saat duka, kami juga terlarut dalam tangis.. tapi tetap, yang akan menjalani kelanjutan dari kebahagiaan pada hari minggu kemarin adalah mbak lastri dan mas mirza atau kelangsungan  hidup yang harus dilanjutkan tanpa kehadiran kepala rumah tangga lagi yang harus, mau tidak mau dijalanai oleh santi dan keluarganya..saya hanya satu komponen yang hanya bisa turut mendoakan..untuk yang terbaik, bagi mereka 2 orang sahabat. yang juga melengkapi kisah hidup saya, dan yang mengisi lembaran cerita di memori kehidupan saya.

Greatest Wishes 2008

Saya punya sebuah komunitas baru…komunitas yang isinya tentu saja orang2 yang sama dengan saya. Komunitas – komunitas saya sebelumnya adalah komunitas tempat saya menimba ilmu, pengetahuan baru, dan segala hal yang berbau dengan dunia pergerakan, sosialis humanis dan semacamnya lah.atau kalau tidak komunitas yang berhubungan dengan organ structural dan profit..

Namun, komunitas saya yang baru ini berbeda dengan sebelumnya..tapi, disini saya tidak hanya belaja tenatang segala sesuatu yang belum pernah saya pelajari, tapi juga komunitas ini tempat saya merefleksikan tentang arti hidup saya selama ini..

Komunitas ini tidak dikoordinir oleh orang – orang tertentu..karena kami adalah komunitas orang sakit yang sedang berobat di suatu tempat pengobatan alternative…

Saya banyak mengenal orang baru di komunitas ini, tanpa pernah tahu seuk beluk hidup dan kehidupan satu sama lain, kami saling menyapa, saling menanyakan penyakit satu dengan lainnya, dari sekedar berbasa basi, sampai akhirnya kami mulai saling cerita perjuangan kami menghadapi vonis dokter atas penyakit kami, satu dengan yang lainnya.

Mau tidak mau saya mulai membuka mata hati saya yang selama ini banyak tertutup oleh makian ke diri sendiri dan keluhan2 setiap saat penyakit ini menyerang. Saya terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak menangis, terlalu banyak berpikir pesimis..kalau bahasa abang, terlalu banyak memikirkan segala sesuatunya dari sisi yang terburuk, tidak pernah mau berpikir dan menyadari ada sisi baik dibalik semuanya..atau menghargai sisi lain yang telah terjadi dengan seimbang..hehehe..bener juga…

Mungkin dari sosok mbak lia dari sukabumi, mbak nisa dari Surabaya, ibu Juariyah dari lampung, adik Farel dari bandung, atau ratusan ibu, bapak, dan adik serta rekan dari seluruh pelosok jawa dan Indonesia. Dan kami semua sakit, berbagai macam penyakit dari stadium satu sampai dengan paling parah tergabung dalam komunitas tersebut.

Seperti mbak lia, seorang karyawan pabrik tekstil di sukabumi, terpaksa harus berhenti bekerja karena terkena penyakit miom, setiap 2 bulan sekali, mbak lia terpaksa harus di transfuse darah karena setiap haid selalu terkena pendarahan besar, akibatnya badannya kurus dan pucat, apalagi untuk bekerja 8 jam sehari, untuk sekedar naik mobl dengan goncanganpun, mbak lia mengaduh kesakitan, dari sukabumi subuh hari dan baru sampai ke Jakarta jam 10 pagi. Dengan harapan besar akan sembuh disini, karena sudah pasrah dengan sakitnya, namun masih dengan ketakutan akan kemungkinan terbebani dengan biaya yang cukup besar. Dari sekian jam berbagi cerita dengan mbak lia, saya ikut bersyukur dia sudah mempunyai seorang suami yang terlihat saying sama dia. Dengan memberikan tepukan ringan dan lembut di punggung tangannya sambil tersenyum menenangkan setiap mbak lia berkata tentang kekhawatirannya akan biaya perawatan..Syukurlah Tuhan, Kau beri mbak lia seoang suami yang sangat peduli akan keadaannya, terima kasih…

Atau cerita mbak nisa dari Surabaya, kebetulan dia kena kista sama seperti saya juga,  hanya diameternya lebih besar dari saya 11,7 cm dan tidak berani di operasi seperti saya, bukan karena ketidakmampuan biaya, tapi karena bosnya tidak pernah mengijinkan dia tidak bekerja untuk waktu yang lama, apalagi harus 2 minggu tidak bekerja untuk operasi dan recovery, tidak masuk 1 hari saja telp terus menerus berdering…sehingga dia lbh memilih pengobatan alternative yang mungkin bisa lebih cepat, dari Surabaya, mbak nisa ini menggunakan kereta malam bersama dengan ibunya, sampai pagi hari langsung ke duren sawit dan pulang kembali ke Surabaya malam harinya jam 8 karena tidak ada saudara tempat menginap dan ketika saya tawarkan untuk beristirahat sebentar di kos saya mereka menolak, dengan alas an harus kejar jadwal kereta karena tiket sudah dipesan, bisa dibayangkan betapa lelahnya dia, padahal penyakit kami tidak diperbolehkan terlalu lelah. Syukurlah, pengobatan yang dbutuhkan hanya 2 kali terapi dan mereka tidak harus membelanjakan banyak biaya untuk bolak – balik Surabaya–Jakarta, syukurlah…

Dan cerita lain yang sempet saya dengarkan adalah cerita ibu Juariyah dari Lampung, sebenarnya saya tidak mendengarnya langsung dari beliau karena ibu juariyah sudah sangat lunglai meskipun hanya untuk sekedar bercerita, dia hanya terbaring lemah dengan tatapan mata yang kosong, tapi saya dapat cerita beliau dari adik kandungnya, ibu Ruayah, yang tinggal di Cibitung. Ibu Juariyah menderita komplikasi diabetes dan kanker rahim, pas saya Tanya stadium berapa,adiknya menjawab ndak tau mbak, wong setelah periksa ke dokter sudah harus dioperasi, hanya kakak saya ndak berani… , dengan logat jawanya yang kentel, ibu ruayah ini bercerita ke saya (ternyata mereka adalah keluarga transmigran dari solo)..Operasi yang seharusnya sudah dilakukan sejak 2 tahun yang lalu ini, tidak kunjung dilaksanakan karena banyak hal, alasan pertama dan paling tama adalah komplikasi diabetesnya yang tidak memungkinkan ibu juariyah dioperasi, jadi harus diturunkan dulu gula darahnya sebelum operasi, dan alasan kedua tentu saja biaya..jadilah selain terapi ke dokter untuk diabetesnya, ibu jua ini melakukan terapi alternative untuk kanker rahimnya. Pas saya Tanya sebabnya, adiknya menjawab, karena (yg di crosschekkan dengan keterangan dokter adalaha ibu jua ini menikah di usia 13 tahun!!), dan sering di kuret akibat dulu sering keguguran..jadinya mungkin rahimnya gak bersih. Dan akibatnya karena komplikasi ini, si ibu jua makanannya harus diatur sedemikian rupa, tidak boleh makan nasi mbak, hanya makan kentang dan obat… tiap jeda 2 jam dia minum obat yang berbeda, 2 jam pertama dari alternative buat kanker rahimnya, trus makan kentang lagi 2 gigitan, selisih 2 jam berikutnya obat diabetes dari dokternya…Ya Allah..gimana rasanya??? Dan adiknya kembali menuturkan, kami sudah berobat kemana2 mbak, ke banyak ustadz, ada yang minta smp 6 juta, padahal cuman dikasih minyak saja, mana bukanya jam 11 malam, jadi harus naik ojeg soalnya kan angkot udah pd gak ada mbak, sekali ngojeg 1 motor bayarnya 40 ribu, kalo 2 motor 80 ribu, itu sekali PP aja mbak, belum seminggu harus berapa kali…dan kayaknya kakak saya ini tambah berat penyakitnya karena ninggalin anak bungsunya dilampung yang usianya masih 9 tahun….dia udah punya 4 cucu loh mbak….(4 cucu dan anak terakhir 9 tahun….pasti lelah sekali…perempuan yang hebat!!)..Syukurlah, dia ada adik di Jakarta, Setidaknya dia bisa rutin berobat tanpa harus berpikir bagaimana akomodasinya untuk menginap dllnya..

Adalagi adik Farel yang usianya masih 7 tahun, dengan kelainan bocor pada katup di Jantungnya..pada saat diterapi dia hanya menangis sesegukan sambil memeluk erat ibunya, sangkin sakitnya mungkin,  dia merintih bolak – balik bilang …”ibu, farel mau pulang …”, trenyuh sekali saya melihatnya..anak seusia dia yang seharusnya masih lincah bermain kemana – mana sudah mempunyai kelainan dari lahir, akibatnya badannya kurus dan layu, tidak ceria seagaimana layaknya anak seusia dia Pada saat saya tanyakan ke ibunya, karena adik farel ini terlihat sangat pendiam dan terlihat sangat tdk ekspresif, ibunya bilang..”dia emang jarang nangis mbak, kalau jantungnya lagi sakit, dia hanya merintih dan minta dipeluk..jarang banget nangis…” Subhanallah..tegar sekali..anak sekecil itu, serapuh itu…Hebat!!!!

Dan  dari mereka semua, saya kembali ke diri saya….saya malu….saya sangat malu…apa yang saya derita belumlah sebanding dengan mereka, apa yang saya alami, belumlah ke dahsyat mereka..saya belumlah apa – apa dibanding perjuangan mereka untuk tetap bertahan hidup..tapi saya sudah limbung, saya sudah terlalu banyak memaki, mengutuk dan menyalahkan apa yang menimpa saya sehingga saya sudah sedemikian cepat mengubur impian – impian saya sendiri…saya sudah menjadi sosok yang putus asa, yang kalah…SAYA MALU…

Di sekeliling saya, pada saat saya berada di komunitas itu adalah cerita – cerita cobaan dan derita manusia yang sesungguhnya..yang sangat bisa terlihat dengan mata telanjang..orang – orang yg tidak berdaya, yang jalan dengan tertatih dan muka pucat..yg mengerang kesakitan, yang hanya bisa berucap istighfar ribuan kali ketika mereka tidak berdaya melawan kesakitan pada tubuhnya….tapi..dari komunitas tersebut saya menemukan arti pentingnya sebuah perjuangan dan harapan untuk terus bertahan hidup, sekecil apapun, harus tetap dipupuk dan diperjuangkan….meskipun itu sangat tidak mudah..

Saya belajar banyak dari komunitas ini, saya belajar sangat banyak dari saudara – saudara saya disini, belajar tentang indahnya berbagi, meskipun hanya cerita yang kami bagi..indahnya saling membeikan motivasi dan semangat untuk terus berjuang..jika apa – apa yang dulu saya pelajari hanyalah sebatas motivasi untuk membuat semua kehidpan menjadi lebih baik, di komunitas ini saya yang baru ini, membuat hidup menjadi lebih baik adalah langkah selanjutnya setelah kami berjuang menyelamatkan nyawa kami, berjuang untuk terus bisa bernafas dan hidup…meski semuanya juga akan kembali ke Yang Berkuasa…tapi Tuhan…Saya berjanji…Tahun ini saya akan banyak menata diri saya lagi, saya akan menjadi orang yang seperti dulu, tidak hanya bisa memberikan energi positif untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang – orang terdekat saya, seperti dulu…saya akan berubah..Saya berjanji Tuhan, saya akan menjadi seseorang yang tidak banyak mengeluh di tahun ini…Saya berjanji akan menerima segala sesuatunya dengan lapang dada, dengan tersenyum ceria, tanpa ada airmata lagi..dan kalaupun harus ada airmata yang terjatuh, biarlah itu saya tumpahkan di hadapanMu Tuhan, tidak di Hadapan Siapapun.. dan saya akan kembali merangkai impian – impian saya yang sempat saya kubur dalam – dalam…. Saya berjanji…

Special Thanks to: Mbak Lia, Mbak Nisa, Ibu Juariyah, adek farel dan Mamanya..Mudah2an kita tetep bersaudara ya..dan sama – sama sembuh dari sakit kita selama ini..Amiiiiiinnnnnnn

End Year Reflection of Me...

31 Desember 2007, pukul 15:00 WIB dalam perjalanan pulang dari mengambil obat..sepanjang perjalanan Durensawit –Rawamangun, diangkot 27, saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini..mungkin bias dianggap sebagai refleksi akhir tahun dari hidup saya selama 1 tahun ini..tahun 2007, mencatat banyak hal dalam hidup saya..

January 2007

Tahun baru saya rayakan bersama dengan temen kost saya dan sahabat saya di ITS dulu, kami berapi – api untuk pergi ke Monas, itung – itung merayakan awal tahun bersama dengan rakyat garis bawah Jakarta laah..dan ternyata berbagi kebahagiaan dengan mereka sungguh sangat melegakan..duduk di rumput monas, makan gorengan dan kembang gula favorit saya..sempet kehujanan…naik pager monas…rasanya sungguh sangat tahun baru dan sangat ‘muda’ hehehehe…

Di awal bulan ini, saya masih di Indokarlo, satu dari sekian member astra otoparts, dan waktu itu masih raker kalo gak salah dan akhir bulan saya ada bussinness trips ke Malaysia (KL, Sungai Siput, Penang), via Singapore dan berlanjut ke Philiphine sampai dengan early February saya tidak di Indonesia (dan hanya sempat mengikuti berita kebanjiran di Jakarta via CNN..sedih banget L )….

February 2007

Awal bulan ini saya masih berada di KL, sampai saat merayakan Ulang tahun ke 25 tahun, saya merayakannya di Concorde Syah Alam dengan surprised party dari beberapa big bos disana…thanks Mr. Said dkk.. dan Ucapan Selamat Ultah special di detik pertama ultah saya dan satu2nya dari Indonesia.. (thanks abang…L.U..), kami move dari Concorde KL karena Big Bos saya mau seharian ber Golf Ria diSyah Alam Fyiuhh!!!!..sementara saya diperbolehkan keliling sendirian..hehehehe…dan sampai dengan kurang lebih tgl 5 saya di Philipine, ditempat inilah, karena 2 hari tidak makan nasi..saya sempat merasa ada yang tidak beres dengan sisitem tubuh saya..rasa nyeri di bagian rahim saya sangat kentara, namun, saya coba mengelabui diri…mungkin memang hanya lapar….

Tapi, ternyata, kecugiraan yang sempat saya tutup-tutupi itu benaran ada, sekembalinya saya di Jakarta, saya pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit sampai dengan keputusan dokter akan kista saya harus di operasi..pasrah menunggu sampai dengan saya dioperasi, saya sempatkan izin ke atasan saya untuk beristirahat sampai dengan membaik..dengan sedikit keberatan, beliau akhirnya mengizinkan..Masa recovery saya hanya 1 minggu setelah operasi dan tentu saja dengan dampingan dari ibunda tercinta yang rela berbagi tempat tidur sempit dengan saya selama di Jakarta ;p , saya kembali dituntut untuk bekerja .masih dengan langkah yang tertatih saya berangkat mencari sesuap nasi dan segengam beras lagi..hehe

Maret, April, 2007

Bulan ini kalo gak salah saya disibukkan dengan audit dari customer saya dari Australia…kalo bicara audit, saya males menulis dan saya yakin sekali pasti juga sangat tidak menarik untuk dibaca. J jadi saya skip aja yaaa…

Mei 2007

Di bulan ini, ada satu tanggal bersejarah buat saya (yg saya jadikan password HP saya sampai dengan saat ini, 27 Mei 2007..(saya yakin mungkin dimuka bumi ini hanya 2 orang yang tahu tentang makna tanggal ini hehehehe), yang pasti di tanggal ini, saya berhasil menginjakkan kaki saya untuk pertama kalinya ke Sumatra, dikampung halaman orang yang saya cintai dengan segenap hati saya…impian saya yang terpendam lama ini akhirnya dipenuhi lewat tangan orang yg saya sayangi….makasih abang..)

Juni, Juli 2007

2 Bulan ini, saya berjuang mewujudkan mimpi saya dengan membuat sebuah system di pabrik besi tempat saya bekerja. Dari buat struktur organisasi baru, management policy, tatib bekerja, SOP system sampai mesin, sampai perancangan seragam, logo, tanda karyawan, sampai dengan rumus pembuatan harga dan penawarannya…kasarnya, saya yang menguasai pabrik tersebut…dan saya sangat nyaman dengan posisi tersebut, sampai dengan ada sebuah tawaran bekerja di organisasi international yang selama ini saya impikan mengabdi di dalamnya UNICEF.

Agustus 2007

Bekerja di International Organization, membuka kembali wawasan dan soft skill saya tentang humanisme yang cukup lama terkubur oleh kesibukan dunia kapitalisme tempat dimana saya bekerja selama ini, otak yang selama ini terpenuhi dengan hitungan sekian persen profit yang harus saya buat untuk bonus akhir tahun yang pasti menggiurkan jumlahnya menjadi fresh kembali dengan hitungan berapa banyak yang harus saya peroleh untuk membantu anak – anak Indonesia (meski semua juga tidak lepas dari target), setidaknya ketika saya bekerja, fokus utama saya lebih kepada bagaimana anak-anak Indonesia menaruh harapan besar ke saya (cieee)….intinya saya belajar banyak dari UNICEF, tentang pola kerjanya, tentang culturenya (terutama hobby semua orang untuk selalu merayakan segala sesuatu dengan party dan party..yang tentunya makan dan makan…;p )…

September, Oktober, Nopember 2007

Di bulan ini saya berkecimbung dengan kesibukan di UNICEF, kesibukan mengumpulkan alumni kantin ITS untuk halal bi halal dan reuni di Jakartasini.. pun kesibukan mencari obat permanent untuk penyakit saya..plus restu orang tua mungkin ya..hehehhe…yang pertama bisa lah teratasi, sedang selanjutnya kayaknya kok susah banget ya…

Desember 2007

Di Bulan ini, saya banyak menemukan hal baru, diantaranya proses saya mulai mengubur semua impian saya, pelan – pelan saya timbulkan kembali, karena saya sedang mencoba pengobatan alternative..sebenarnya, hanya diakhir bulan saya mulai optimis menatap impian dan obsesi saya ke depan, dan saya benar2 ingin menjadi orang yang banyak bersyukur dengan apa yang tertimpa ke saya, apa yang teranugrah ke saya..mudah2an awal tahun 2008, saya bisa berubah menjadi ‘baru’ ala saya sendiri, dan tidak pernah menyesali kesalahan langkah yang pernah saya tempuh untuk masa depan yang sempat pernah akan saya gadaikan ini seperti kata satu dari sekian saudara saya tercinta Bom-bom…mudah2an semuanya berakhir dengan indah….Doakan saya kawan!!!!!

KEBODOHAN SAYA??

Pagi ini, saya membuat sebuah kebodohan baru lagi…dengan alasan mau test pisau cukur alis masih tajam atau sudah tumpul, saya goreskan dengan keras..bukan ke kertas atau ke kain atau hal lainnya..tapi saya goreskan ke kulit paha saya…jadilah darah mengucur deras dan membuat koleksi luka di tubuh saya bertambah satu, yang terbaru ini dengan diameter 2 cm…bodoh ya….;p

Sambil meringis kesakitan, saya mecoba feedback ke beberapa kebodohan – kebodohan yang pernah saya lakukan, dan semuanya berawal dari rasa ingin tahu yang berlebih, dan keinginan kuat untuk mencobanya…

Dulu….pada saat saya masih kulaih semester 5, saya ingin sekali tahu ttg kinerja mesin ATM, ada warning di mesin ATM kampus pada saat itu, jika uang tidak diambil selama (kalau tidak salah 20 detik), maka ATM akan menelan kembali uang yg telah dikeluarkannya. Saya penasaran sekali akan apa yg terjadi ketika uang yang akan saya ambil itu tertelan lagi..dan tanpa berhitung, saya proses pengeluaran uang di ATM tersebut..dan lagi – lagi tanpa berhitung lebih jauh…saya keluarkan semua sisa transferan orang tua untuk bayar SPP..dengan senyum2 simpul, saya cuekin uang yang sdh terdebet itu sampai dengan mesin menelan kembali…komentar saya setelah mesin menelan kembali uang tersebut…oalah..cuman gitu…, saya pencet kembali jenis transaksi untuk mengeluarkan sejumlah uang yang tertelan tadi…whaaaatttttt…kok saldo tidak mencukupi, cek saldo..cek saldo..whaaaaattttttt kok tinggal 50 rb..kemana uang saya…??????

Dengan wajah pucat dan badan yang lemes, saya keluar dari mesin ATM yang udah lebih dari 15 menit saya tungguin, tanpa hasil…gimana gak lemes..2 hari lagi batas akhir pembayaran SPP…uang dari manaaaaaaa?????, mulailah saya curhat dengan seadnya cerita tanpa ditambahi atau dikurangi ke temen2 sekaligus juru selamat saya jika saya sedang kelaparan di kampus dulu..mereka enteng aja bilang…goblok bgt sih kamu, kalo mau nyoba, kenapa gak 20rb aja..kenapa harus semua uang tabungan kamu…..jadilah..kami semua repot untuk mengembalikan uang tersebut sampai dengan 2 hari berikutnya, setidaknya sampai dengan batas akhir pembayaran SPP selesai. Bolak balik BNI gubeng ke ITS, prosedurnya mbulet sak mbulet mbuletnya..sampai saya kerahkan semua kemampuan saya bernegosiasi, halus sampai dengan kasar dan menarik perhatian nasabah lain ;) (maaf BNI gubeng…) dan untunglah saya tidak sempat orasi di sana, karena keburu diantar ke lantai 3…hehehehe, dan akhirnya dari proses yang sangat melelahkan tersebut, uang saya bisa dikembalikan tanpa harus menunggu report dari mesin ATM di ITS yang hanya bisa diambil setelah uang di ATM habis…duh Gusti..Matur Nuwun…

Berbicara tentang kebodohan – kebodohan saya, memang lebih banyak dikarenakan keisengan saya dan rasa inghin tahu yang berlebih, ketika naik angkutan umum dengan kecepatan tinggi, kadang saya berpikir apa ya yang akan terjadi jika saya tiba2 melompat dari atas sini..atau tiba – tiba berpikir, apa yang yang bakal terjadi jika saya bakAr seluruh kota…hahahahahahhahaha..kata orang itu bisikan, tapi sejauh mana saya menuruti jiwa dan pikiran radikal saya, sejauh ini masih cukup tertoleransi kok…;p

Kebodohan besar saya yang terbaru adalah berbicara tentang keputusan saya menggadaikan seluruh masa depan saya demi kesembuhan penyakit saya…lagi – lagi ya…

Bentuknya seperti apa, sepertinya tidak perlu saya jelaskan terlalu detail ya masalah pergadaiannya… terlalu privacy ;p

Saya memutuskan dengan drastis, bahwa saya tidak akan terklalu menaruh harapan besar ke masa depan saya untuk meraih semua impian dan ambisi saya, yang saya perhatikan hanyalah bagaimana saya menemukan seseorang untuk memberikan anak ke saya, as soon as possible..ketemulah seseorang tersebut, baik, menarik, lembut, smart, bicara apa yg telah dan sedang dia punya sama sekali tidak masuk hitungan saya, karena yang saya perlukan adalah factor genetic dia, bukan apa yang telah dia punya dan dia raih…sama sekali tidak masuk hitungan saya…Masa lalu dia..yaaahhh cukup tahu sekilas lah..dan kebetulan memang tidak terlalu baik..cuman ada satu orang terdekat saya yang sempet bilang seperti ini..semua laki-laki itu brengsek nell, carilah dari mereka yang kadar brengseknya paling sedikit ;p bener juga..dan lagi..past is a past..seburuk apapun dia dimasa lalu, ketika sekarang dia baik dan care sama saya, kenapa saya harus take an attention to his past…EGP kali yaaa….lebih baik mantan preman bukan, ketimbang calon preman..hehehehe

Dia baik..beneran baik, lembut..bangeeettt, charming..hehe..nice lah..lagipula smart enough dan yang terpenting dia mau jadi partner belajar…hehehehe

Kalo menurut bahasa temen saya, taraf suka atau ketertarikan seorang perempuan terhadap laki – laki itu ada 3, pertama adalah ketertarikan fisik yang berasal dari perhatian dia secara fisik kepada laki laki, baik berupa penampilan, perhatian, kasih sayang dan segala hal yang bersifat fisik dan perlakuan. Yang kedua adalah ketertarikan secara rasional, yang berdasar kepada pekerjaan, kemapanan dan masa depan dia, sedangkan yang ketiga adalah ketertarikan secara emosi yang intinya, kata temen saya ini mau loe jelek, kere..gw tetep suka sama loe…Nah.tahap saya sama si partner saya masih di tahapan pertama, ketertarikan fisik…karena saya gak tertarik sedikitpun sama apa yang dia punya tuh…..mungkin cukup menggiurkan dengan sekian ‘kemapanan’ yang sudah dia miliki, tapi..go to hell with that..saya bias kok cari uang makan dengan tenaga saya sendiri..kayaknya kok kasian sekali ya ketika seorang perempuan memilih menyukai seorang laki – laki hanya karena ingin menumpangkan hidupnya ke laki – laki tersebut..menyedihkan sekali berpikir menjadi parasit bagi hidup orang lain….saya yakin hanya perempuan bodoh yang berpikir tentang hal tersebut!!!!!

Kembali pada si partner saya ini, sikapnya yang cukup nice, lembut, dan care ini ‘sempet’ membuat saya benar – benar berpikir bahwa dia telah berubah, dan tentu saja, saya juga akan berubah, karena saya termasuk orang yang cukup cepat berimprovisasi kok..hahahahahha, dan setelah cukup lama saya mengenal dia, ternyata anggapan bahwa dari 10 orang laki – laki, 9 orang brengsek dan 1 orang adalah gay itu bener banget.dan hebatnya dia mengakui itu dengan sangat berbesar hati dan sangat jujur….

Ketidaksiapan dia terikat secara resmi itu mutlak, saya tidak tahu sampai kapan..mungkin yang dia inginkan adalah sosok dimana dia bisa menjalin sebuah special partnership tanpa adanya keterikatan emosional sama sekali…..fine..jika saya tidak sakit..mungkin saya don’t care dengan semua itu..umur masih muda, banyakin seneng2 aja…tapi kan saya harus berpikir banyak..dan itu tidak mudah.

Kadang, saya berpikir ini adalah wujud kebodohan saya yang lainnya lagi…yang terlalu berprasangka bahwa orang bisa dengan mudah berubah dari tidak baik menjadi sangat baik..atau benar – benar berubah total..ternyata tidak semudah itu ya….

Namun, dengan mengatasnamakan perjanjian sebagai hanya partner belajar, saya tidak bias terus memupuk harapan dan perasaan saya ke dia, karena saya kok feeling semuanya hanya akan sia2..bukan sebuah judgement seperti yang selama ini dia tuduhkan ke saya, bahwa saya termasuk orang yang sangat mudah justifikasi seseorang….bukan ini bukan sebuah judgement..saya hanya mencoba menganalogkan dari sekian waktu yang saya coba belanjakan bersama dengan dia..dan ternyata semuanya tidak menghasilkan apapun..kecuali hanya sedikit kenangan manis dan lebih banyak kebersamaan yang sia2…..

Tapi..bagaimanapun juga, dia pernah mengutarakan sebuah niat baik ke saya bukan, mau membantu saya dengan tulus..hanya sayang ya..seiring berjalannya waktu, ternyata niatan baik saja tidak cukup…dan pembuktianlah yang benar2 diperlukan…

Untuk Partnerku yang tersayang (saya yakin dia membaca blog saya ini)….Maafkan semua yang telah terucap dari aku yang mungkin telah menyakiti hati kamu..aku hanyalah makhluk tuhan yang tidak sempurna, yang juga tidak biasa berbicara manis selayaknya perempuan – perempuan lain yang mungkin pernah deket dengan kamu..aku hanya mencoba berbicara jujur, seperti yang kamu minta..inilah yang ada dalam pikiran aku, saat ini…tentang kamu, tentang yang sempet terjalin diantara kita meski hanya dalam waktu yang sangat singkat…

Benar…seperti bahasa kamu, bahwa kita adalah 2 orang yang sebenarnya takut berkomitmen, tapi mencoba untuk berani..dan sekarang memang kita sama – sama menarik diri dan buat batasan – batasan diantara kita….., sayangnya ketika aku mencoba untuk membuka diriku, kondisi dan keadaanku, perasaan, dan segalanya…tidak satu katapun yang aku tahu ttg ‘kondisi’ kamu..Not Even one Word..and why I should heard something real about you from other person????

Tapi BTW….saya ingin berkata dengan sejujur-jujurnya bahwa kebersamaan kita yang singkat itu sangat berarti bagi aku..sangat berkesan bagi aku…kamu pernah menjadi bagian special meski tidak ada orang lain yang tahu tentang kita…hari – hari dimana kita berbagi cerita dan tawa bareng…taruhan bareng…rencana sholat EID bareng  (tapi gak jadi ;) )…semuanya indah kok…dan aku berharap dari lubuk hati yang paling dalam, suatu saat nanti, kamu akan bercerita yang sejujurnya sama aku..apa yang kamu rasakan saat itu…kamu akan mengatakan yang sejujurnya apa yang terjadi pada saat itu sampai segalanya menjadi tidak seperti yang kita harapkan…dan mudah2an itu bias membuat aku mencoret satu hal ini dari daftar kebodohan – kebodohan baruku…dan mengubahnya menjadi hal yang aku bias mencatatnya sebagai satu dari sekian kenangan yang harus aku jaga dalam memoriku…

..Nell’s…

Dia III

Aku ingin mengakhirinya..setidaknya aku mencoba bersikap egois dengan berpikir bahwa aku harus menyebuhkan penyakitku dengan mencari pasangan hidupku..dengan mencari seseorang yang bisa memberikan janin ke rahimku..ketika beberapa kali aku coba minta dari dia dan dia tolak dengan sangat jelas…aku harus merangkak perlahan untuk memulai hidupku lagi…

Aku limbung…tapi..tidak ada salahnya kan, kalo aku terus mencintai dia, setidaknya hingga tuhan menentukan hal lain, aku ingin memberikan kenangan indah disaat2 akhir keberadaanku dalam hidupnya..aku hanya ingin memberi dan memberi..aku harus selalu tersenyum..dan aku ingin memastikan dia baik2 saja, dia tidak terluka dan tersakiti lagi..aku hanya ingin memberikan kesan yang berarti selama 1,8 tahun kedekatan kami, aku ingin dia tahu..aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah aku alami, aku ingin dia tahu bahwa 1,8 tahun ini, aku merasakan rasa yang begitu indah…dan pengorbanan apapun tidak sebanding dengan indahnya apa yang akan aku kenang sampai nanti di akhir hayatku..

Aku yakin Tuhan pasti menyayangi aku, seburuk apapun yang telah aku lakukan dalam mengkhianati kasih sayangNya selama ini, Dia memberi peringatan bahwa aku harus cepat melupakan dia, yang disisi lain akan sangat menyakitkan, karena aku begitu mencintainya….dengan datangnya penyakit ini..namun, aku jadi berpikir bahwa mungkin aku ditakdirkan untuk tidak selalu menjadi baik disetiap jalan hidupku..aku akan berusaha memiliki anak dengan atau tanpa menikah..dengannya atau dengan orang lain..jikalaupun dia tidak akan mau memberikan janin ke rahimku, aku akan mencarinya dari orang lain yang tidak akan merasa terbebani dengan menanamkan benih ke aku….

Tuhan..aku sangat lelah..kenapa Engkau harus memberi hambaMu yang hina ini cobaan perasaan..mengapa Engkau tidak memberikan cobaan hambamMu yang hina ini dengan cobaan kelaparan, seperti 2 – 3 tahun yang lalu..hamba pasti bisa mengatasinya..tanpa pernah terpikir untuk menganggapMu tidak adil…

Bisakah Engkau karuniakan perasaan yang seindah ini buat hambaMu yang hina ini, untuk hamba pasrahkan kepada sosok lain, kepada lelaki lain, yang boleh hamba miliki sepenuhnya???

Tapi, sudahlah..aku mencintainya..meskipun jika harapan kami terkabul bahwa suatu saat kami akan saling  melupakan, aku tetap ingin mengingat bahwa saat itu begitu indah..dan aku tidak yakin akan bisa mencintai lagi dengan kapasitas rasa yang sama.

Dan sementara menunggu saat itu sadang, aku ingin memberikan kenangan termanis untuk dia, untuk hidup dia, sampai jika suatu saat nanti aku sudah pergi dari hidupnya..dia tidak akan menganggapku membuatnya menderita…aku akan berusaha membuatnya bahagia, nyaman, meski itu harus dengan melawan keinginanku sendiri selaku perempuan yang merindukan pelukan laki-laki yang dia cintai…

Aku akan tetap berada disampingnya, hingga saat dia katakan atau ucapkan sesuatu yang mengindikasikan tidak adanya lagi rasa yang sama dalam dirinya untukku…mungkin, ketika saat itu datang..aku akan undur diri dengan segala ketabahan dan kekuatan hatiku..aku yakin, aku bisa tegar, meski itu tidak mudah..tapi aku pernah berhasil untuk mentertawakan nasib 2-3 tahun yang lalu juga bukan??? Dan aku berhasil bangkit dan berjuang sendirian menghadapinya…aku yakin..aku perlahan – lahan belajar untuk bisa mentertawakan nasib dan takdirku yang sekarang..dan aku tetap akan seperti dulu, berhasil berjuang sendirian dan aku akan sangat menyesal seandainya suatu saat nanti bertemu kembali dengannya pada saat dia sedang tidak bahagia atau terluka…aku hanya ingin membuatnya bahagia karena aku demikian mencintainya…..

My Photo

June 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30          
Powered by Friendster Blogs